Nasyid

Saturday, January 14, 2012

PERANG: Kewajipan Yang Dilalaikan

URWAH JABIR - KEWAJIBAN YANG DILALAIKAN
by Kapal Laut on Saturday, 14 January 2012 at 05:04

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

KEWAJIBAN YANG DILALAIKAN



Dari hamba Allah Yang Faqir Atas Ampunan-Nya

Abdullah Muridusy Syahadah

Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus

Di Mana Saja Berada



اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

أمَّا بعد

Ungkapan senandung syukur selalu kita awalkan dalam setiap tulisan risalah ini. Karena hanya dengan karunia dan izin-Nya risalah ini dapat menjumpai antum semua. Ini semua karena ridho dan ‘inayah Allah Ta’ala.

Sholawat beriring salam selalunya kita haturkan ke atas junjungan kita nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Yang bersabda: “Dien itu Nasehat. Kami (para shahabat bertanya): Untuk siapa? Beliau menjawab: Untuk Allah, Kitab-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Nya, Pemimpin kaum muslimin dan Rakyatnya”. (HR. Bukhori dan Muslim). Amma Ba’d

Ikhwah fillah …..

Di antara kewajiban yang dilalaikan oleh kaum muslimin hari ini adalah JIHAD FIE SABILILLAH. Padahal jihad hari ini adalah hukumnya FARDHU ‘AIN (Kewajiban Individu), bukan FARDHU KIFAYAH. Yaitu satu kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada setiap pribadi muslim. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia berdosa.

Apa benar JIHAD FIE SABILILLAH hari ini terabaikan dan terlalaikan? jawabannya setelah antum menyimak risalah ini.

Ikhwah fillah …..

Ada beberapa hal yang dilalaikan oleh mayoritas kaum muslimin dalam urusan JIHAD FIE SABILILLAH ini. Bebrapa hal itu adalah:

Makna JIHAD
Hukum JIHAD
Aplikasi JIHAD

Adapun penjabarannya sebagai berikut:

1. Makna JIHAD

Jihad secara bahasa:

Kata jahada–yajhadu-al juhdu wa al jahdu جهد-يجهد-الجهد-الحهد) ) mempunyai lebih dari 20 makna, semuanya berkisar pada makna kemampuan (الطاقة ) , kesulitan (المشقة ) , keluasan (الوسع) (kemampuan dan kesempatan), (القتال) perang dan ( (المبالغة bersungguh-sungguh. Karena itu para ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan ahli bahasa selalu mengartikan jihad secara bahasa dengan makna mencurahkan segenap kemampuan atau (bersungguh-sungguh menundukkan) kesulitan. [1]

المشقة ببذل أقصي ما في الطاقة والوسع

Menanggung kesulitan dengan mengerahkan segala kemampuan.[2]

Adapun Definisi Jihad secara Syar’ie :



Bila disebutkan kata jihad fi sabilillah maka maknanya adalah berperang melawan orang-orang kafir untuk menegakkan kalimatulloh. Inilah definisi yang disebutkan oleh para ulama salaf, berdasar ayat-ayat dan sunah-sunah Rasulullah. Begitulah fatwa Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat tentang makna jihad :



عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللهِ مَا اْلإِسْلاَمُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ الْإِسْلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ قَالَ وَمَا اْلإِيمَانُ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ الْإِيمَانِ أَفْضَلُ قَالَ الْهِجْرَةُ قَالَ فَمَا الْهِجْرَةُ قَالَ تَهْجُرُ السُّوءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِقَ دَمُهُ

Dari Amru bin Abasah ra. beliau berkata, “Ada orang bertanya kepada Rosululloh, “Wahai Rosululloh, apakah Islam itu?” Beliau menjawab, “Hatimu tunduk kepada Alloh ‘azza wa jall, dan juga orang-orang muslim merasa aman dari gangguan lidah dan tanganmu.” Orang tersebut bertanya, “Lalu Islam bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman.” Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah iman itu? “Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya dan kebangkitan setelah mati.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu iman bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab, “Hijroh.” Orang tersebut bertanya lagi,” Apakah hijroh itu?” Beliau menjawab, “Engkau meninggalkan amalan jelek.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu hijroh bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab, “Jihad.” Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah jihad itu?” Beliau menjawab, “Engkau memerangi orang kafir jika kamu bertemu mereka.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu bagaimanakah jihad yang paling utama itu?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang terluka kudanya dan tertumpah darahnya.” (HR. Ahmad 4/114 dengan sanad shohih, juga oleh Abdu Razzaq 11/127 no. 20107, Ath Thobroni dan Al-Baihaqi, mempunyai syawahid dalam Silsilah Ahadits al Shahihah no. 551).

Bahkan syaithan pun paham bahwa jihad itu maknanya perang di jalan Allah demi meninggikan kalimat Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِي فَاكِهٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ ِلابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ اْلإِسْلَامِ، أَتُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ؟ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ، أَتُهَاجِرُ وَتَذَرُ أَرْضَكَ؟ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ، هُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقَسَّمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَمَاتَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Dari Sibrah bin Abi Fakih bahwasanya Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam, "Apakah kau mau masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu?" Ia tidak menuruti setan dan masuk Islam. Maka setan menghadangnya di jalan hijrah, "Kau mau hijrah, meninggalkan tanah air dan langit (yang menanungi)mu? Ia tidak menuruti setan dan berhijrah maka setan menghadangnya di jalan jihad, "Jihad itu dengan jiwa dan harta, kau mau berjihad, sehingga terbunuh dan istrimu dinikahi orang serta hartamu dibagi-bagi?" Ia tidak menururti setan dan tetap berjihad. Siapa saja melakukan hal itu lalu mati, sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja terbunuh maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja tenggelam (karena jihad atau hijrah—pent) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja terlempar dari kendaraannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga." [HR. Ahmad 3/483, Nasa'i 6/21 dan Ibnu Hiban no. 1601, Shahih al Jami' al Shaghir 2/340 no. 1652/736, Shahih at Targhib wa at Tarhib 2/173. Lafazh hadits milik Ibnu Hibban].

Secara ringkasnya definisi jihad adalah “MEMISAHKAN KEPALA MUSUH DARI TUBUHNYA, ATAU MENGELUARKAN NYAWANYA DARI RAGANYA”.



Syubhat yang terjadi :

Ada sebagian orang yang mengartikan jihad itu hanya diambil dan atau dipandang dari segi bahasa saja. Sehingga semua kesungguhan yang dilakukan adalah merupakan jihad. Namun dibalik itu ada maksud yang tersirat yang dia tuju, yaitu mengkaburkan makna jihad yang sebenarnya, sehingga orang itu terjauhkan dari pemahaman jihad yang sebenarnya.



2. Hukum JIHAD

Dasar hukum jihad adalah FARDHU KIFAYAH. Namun hukum itu berubah menjadi FARDHU ‘AIN jika:

Ketika imam mengumumkan istinfaar (Mobilisasi Perang), baik untuk orang tertentu maupun untuk seluruh kaum muslimin.

Dasarnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ. إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman mengapa jika dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat kalain?” Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia padahal kenikmatan di dunia ini dibandingkan kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kalian tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. 9:38-39].

عن ابن عباس أن النبي r قال يوم الفتح : لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد و نية وإذا استنفرتم فانفروا.

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi r bersabda saat fathu Makkah, “Tidak ada hijrah lagi, yang ada jihad dan niat dan jika kalian diminta untuk keluar berperang maka berangkatlah.” [HR. Bukhari]

Jika pasukan Islam sudah berhadap-hadapan dengan pasukan musuh.

Dasarnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَالَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ اْلأَدْبَار. وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ.

“Hai orang-orang yang beriman apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerang kalian, maka janganlah kalian mudur membelakangi mereka. Barangsiapa yang mundur membelakangi mereka kertika itu, kecuali berbelok untuk mengatur siasat atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Alloh dan tempat kembalinya adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15-16).



Jika ada satu atau lebih muslim yang ditawan musuh. Dasarnya :

وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا

“Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Allah, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dzalim ini dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” [QS. 4:75].

عن أبي موسى قال :قال رسول الله : فكوا العاني و أطعموا الجائع وعودوا المريض.

Dari Abu Musa ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Bebaskan tawanan, beri makan orng yang lapardan jenguklah orang yang sakit.” [HR. Bukhari].



Jika Musuh menjajah daerah/negeri kaum muslimin.

Dan ada beberapa penyebab yang lainnya. Jika salah satu penyebab ini terjadi, maka hukum jihad pada saat itu adalah fardhu ‘ain.

Syubhat dalam masalah HUKUM JIHAD :

Sebagian kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa memang “HUKUM JIHAD HARI INI ADALAH FARDHU ‘AIN”, akan tetapi tidak disetiap bumi dipijak itu hukumnya FARDHU ‘AIN, kecuali daerah-daerah yang disitu ada KONFRONTASI DENGAN ORANG KAFIR, seperti di Afghanistan, Irak, Chechnya, Al Jazair, dls. Sehingga kondisi seperti di Negara Indonesia ini HUKUM JIHAD bukan FARDHU ‘AIN. Karena Indonesia bukan BUMI JIHAD akan tetapi BUMI DAKWAH. Cara yang ditempuh dengan BERDAKWAH bukan dengan BERJIHAD. Wal ‘iyadzu Billah.



Ini adalah syubhat yang berbahaya sekali. Karena dia telah membuat istimbath (kesimpulan) hukum untuk menghukumi HUKUM JIHAD di negeri ini. Padahal dari syarat-syarat JIHAD FARDHU ‘AIN, maka Indonesia termasuk memenuhi syarat ini. Salah satunya adalah JIKA ADA SALAH SATU DARI KAUM MUSLIMIN YANG DITAWAN MUSUH. Lalu sudah berapa ikhwah mujahidin yang sudah ditawan oleh musuh? Yang kita maksud musuh yang menawan mujahidin disini adalah PEMERINTAH MURTAD INDONESIA INI. Kecuali jika antum tidak menganggap bahwa PEMERINTAH ini bukan PEMERINTAH MURTAD sehingga bukan menjadi MUSUH. Maka syarat itu telah gugur. Namun kalau kita sepakat bahwa PEMERINTAH INDONESIA INI MURTADZ, maka kita sepakat bahwa PARA MUJAHIDIN HARI INI DITAWAN OLEH MUSUH. Bukankah begitu? oleh karena itu HUKUM JIHAD di Indonesia hari ini adalah FARDHU ‘AIN. Bukankah begitu ya akhie?



3. TATBIQ (APLIKASI) JIHAD

Ada syubhat yang terjadi “Hari ini memang Jihad HUKUMnya FARDHU ‘AIN, namun untuk di Indonesia belum bisa tegakkan dengan JIHAD MUSALLAHAH (Jihad menggunakan senjata). Karena disebabkan tidak ada MAKAN dan RIJAL.

Ikhwah fillah …..

Ada ungkapan yang bagus dari seorang ustadz ketika ditanya oleh seorang ikhwah: “Ustadz, kenapa kita tidak berjihad sekarang? Apa yang menyebabkan kita tidak berjihad?” Ustadz tersebut menjawab: “Kita belum punya مَكَانْ (Tempat) dan رِجَالْ (Personal)”.

Oke, apakah alasan ustadz ini benar ?

Jika yang dimaksud oleh ustadz ini bahwa MAKAN adalah MAHJAR (Tempat Hijrah), lalu menjadikan MAHJAR sebagai syarat ditegakkannya Jihad, maka menurut saya ini tidak benar. Karena syarat-syarat jihad itu tidak ada disebutkan di dalamnya MAHJAR.

Namun jika yang dimaksud oleh ustadz dengan MAKAN ini adalah tempat para ikhwah yang siap dijadikan MAHJAR itu belum siap, maka menurut saya analisa ustadz tidak benar. Karena menurut saya sudah banyak ikhwah yang siap menjadi anshor buat para mujahidin muhajir. Tinggal menunggu perintah dari pemimpinnya saja. Wallahu a’lam.

Kemudian jika yang dimaksud oleh ustadz bahwa MAKAN adalah MEDAN JIHAD, maka menurut saya Indonesia ini adalah bumi jihad. Kenapa? Karena Indonesia ini Negara murtad lagi kafir, dan orang-orang kafirnya termasuk katagori kafir harbi (Orang kafir yang boleh diperangi). Kapan orang kafir itu menjadi harbi?

Pertama: Jika dia bukan Ahludz Dzimmah (Orang kafir yang tunduk di bawah kekuasaan Islam)

Kedua: Jika dia bukan Ahlus Silmi was Shulhi (Orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin (Gencatan senjata).

Ketiga: Amman (Musta’min) (Orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari orang Islam).

Pertanyaannya adalah “Adakah orang kafir hari ini yang masuk dalam salah satu dari tiga katagori kafir harbi ini? Silahkan antum jawab sendiri!!!!!”

Jika ternyata jawabannya “Tidak ada”. Maka status orang kafir yang ada hari ini adalah KAFIR HARBI, dan boleh kita untuk men-jihadinya walau pun mereka tidak menjihadi kita. Karena yang menuntut kita menjihadi mereka adalah syar’ie. Bukankah begitu ya akhie …..?

Maka dengan lantang saya katakan bahwa ungkapan ustadz itu kurang pas dan benar. Kenapa kurang pas dan benar? Ada bebarapa alasan:

Pertama: Bahwa strategi jihad yang dilakukan oleh mujahidin hari ini adalah HARBUL ‘ISHOBAT (Perang Grilya) bukan PERANG KONVENSIONAL. Yaitu perangnya orang lemah melawan orang kuat. Oleh karena itu amal yang dilakukan oleh mujahidin adalah semuanya bersifat SIRRI (Rahasia/tidak tampak oleh musuh). Jika amal dan kekuatan yang kita lakukan dan miliki ini dilihat oleh musuh, maka musuh akan mudah memukul dan menyerang kita. Karena kita masih dalam kondisi lemah.

Contoh: Jika hari ini kita diketahui oleh musuh bahwa kita mempunyai MAHJAR, maka dengan mudah musuh akan menyerang dan memborbardir MAHJAR yang kita tempati. Dengan itu kita akan dengan mudah dikalahkan oleh musuh. Bukankah begitu ya ikhwan?

Kedua: Tabi’at jihad mujahidin hari ini adalah Mobile (Berputar).

Maksudnya adalah tempat mujahidin selalu berpindah-pindah sesuai dengan KEAMANAN dan KENYAMANAN gerak mujahidin. Dikarenakan strategi jihadnya adalah perang grilya, maka tempat bagi seorang mujahid tidaklah menempat di suatu tempat dan daerah tertentu. Karena jika mujahidin diketahui tempat tinggal dan persembunyinya, maka dengan mudah para musuh yang kuat itu akan menyergap dan menyerang mujahidin tersebut. Bukankah begitu wahai akhie ….. ?

Memang hari ini kaum muslimin mayoritas jumlahnya. Namun yang siap untuk berjihad dan menerima mujahidin tidak sebanyak jumlah yang ada. Kwalitas ilmu dan iman mereka berbeda. Sementara tuntutan jihad hari ini mendesak di depan mata. Namun bukan berarti minimnya kaum muslimin yang siap menerima jihad dan mujahidin itu menjadikan jihad ini berhenti dan tidak boleh ditegakkan. Kita berjihad sesuai dengan kemampuan kita. Jika kita mengharapkan banyaknya orang yang mendukung dan membantu jihad dan mujahidin, maka sebenarnya kita menyalahi sunnah dan perjalanan sejarah jihad dan mujahidin, baik di zaman dahulu maupun sekarang.

Selamanya pendukung jihad dan mujahidin itu sedikit, dan selamanya thoifah mujahidin itu sedikit. Karena itulah sunnatullah yang ditetapkan di dalam hadits rosulullah shollalahu ‘alaihi wasallam:

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم ولا من خذلهم حتى تقوم الساعة وفي رواية مسلم : لا يزال أهل الغرب

“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi:”Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat). (Majmu’ Fatawa, XIII / 531).

Dari Uqbah bin Amir berkata: Aku telah mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang berperang atas perintah Allah, yang selalu menguasai musuh-musuh mereka, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya, sampai datangnya hari kiamat mereka tetap seperti itu”. (HR. Muslim).



Dari Jabir bin Samuroh rhodhiyallahu ‘anhu, berkata: Telah bersabda, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam: “Akan selalu ada dalam Dien ini orang yang selalu berdiri beperang diatasnya sekelompok dari kaum muslimin sampai datangnya kiamat”. (HR. Muslim).

Kemudian, jika yang dimaksud oleh ustadz dengan tidak adanya RIJAL itu adalah personal yang banyak yang siap untuk berjihad. Mungkin hingga bilangan 12.000,- personal dengan persenjataan lengkap, baru kalau sudah begitu jihad dikumandangkan dan dilaksanakan. Maka sampai kapan jihad ini akan diamalkan? Sementara kepala-kepala kaum muslimin setiap hari bergelimpangan di mana-mana?

Lalu jika yang dimaksud oleh ustadz itu kekuatan ini dalam rangka melakukan jihad yang bersifat KONVENSIONAL, maka ungkapan ustadz ini kurang pas dengan waqi’ (kondisi) yang ada sekarang.

Lalu jika melihat tuntutan syar’ie dan kondisi serta strategi jihad hari ini dalam menghadapi musuh, yaitu perang grilnya, maka kata-kata ustadz itu menurut saya salah besar dan TANGEH LAMUN (Jauh panggang dari pada api), dan menurut saya inilah yang dinamakan JIHAD KHOYALI, mau berjihad tapi hanya terbuai angan-angan.

Oke, kita kembalikan lagi kepada ustadz itu. Sudah berapa ratus ikhwah yang pernah I’dad di Afghanistan? Sudah berapa puluh ikhwah yang pernah tadrib di Moro Philipina? Sudah berapa ratus ikhwah yang Tadrib di Ambon dan di Poso? Apakah tidak ada segelintir orang dari mereka yang siap berjihad?

Jika ustadz ini mengatakan bahwa tidak ada satu orang pun dari mereka yang siap berjihad, maka saya jawab “Ustadz ini bohong dan dusta”. Atau kita balik bertanya: “Apakah yang belum siap dalam peperangan ini sang Ustadz sendiri ataukah RIJAL? Wallahu a’lam yang bisa menjawab hanya ustadz tersebut.

Ikhwah fillah …..

Jika kita melihat di lapangan, bahwa kita dapati para RIJAL yang semangat ghirohnya untuk berjihad fie sabilillah sangatlah banyak. Hingga ubun-ubun mereka hendak pecah karena menahan semangat yang mendidih di kepalanya.

Bahwasanya para RIJAL ini banyak yang siap untuk berjihad fie sabilillah, akan tetapi leher-leher mereka terikat oleh pemimpin-pemimpin mereka, terjerat oleh tandzim-tandzim mereka. Ketika mereka hendak berjihad dengan pemimpin dan tandzim yang lain, maka ia merasa bahwa dia keluar dari sam’u wa tho’ah dari pemimpin dan tandzimnya. Atau jika ia bergabung dengan kafilah mujahidn ini, maka ia takut dikucilkan oleh teman-teman se-tandzimnya dan atau dianggap telah keluar dari tandzimnya. Wallahu a’lam bish showab.









[1] Al Jihadu fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu, Dr. Abdulloh Ahmad Al-Qodiri 1/48, menyimpulkan dari Lisanu al Arab 4/107, Taaju al Arus 2/329,al Mu’jamu al Wasith /142, Al Shihah 1/457, Mu’jamu Maqayisi al Lughah 1/486 dll



[2] Taujihat Nubuwah, Dr. Sayyid Muhammad Nuh 2/312-213

No comments:

Post a Comment